Masuk
Masuk

3 Driver Behaviour yang Sering Menyebabkan Kecelakaan di Jalan

Angka kecelakaan truk pengiriman barang menjadi angka kecelakaan tertinggi di Indonesia, ini disebabkan driver behaviour yang kurang baik, apa saja itu?

0%

Menurut data Korlantas Polri yang dikutip dari Bisnis.com menyatakan bahwa pada tahun 2020 ke 2021, angka kecelakaan di Indonesia meningkat menjadi 103.645 yang menewaskan hingga 25.266 korban jiwa dengan kerugian materi sekitar Rp246 miliar. Di mana, keterlibatan angkutan barang menjadi angka keterlibatan kecelakaan terbesar kedua setelah sepeda motor dengan total 12% atau sekitar 21.463 kendaraan. Ada banyak faktor yang memengaruhi tingginya angka kecelakaan tersebut salah satunya adalah driver behaviour atau kebiasaan pengemudi ketika membawa kendaraan. Lalu apa saja driver behaviour yang menyebabkan kecelakaan di jalan?

 

Kecepatan dan Beban Melebihi Batas

Seringnya seorang driver atau pengemudi dikejar-kejar waktu pengiriman membuat mereka sering berkendara  melewati batas kecepatan dan muatan berat beban yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan dengan alasan “mengejar waktu dan agar lebih efisien”.

Ketika pilihan ini diambil oleh pengemudi, maka laju kendaraan bisa menjadi tidak stabil dan membuat penggunaan bahan bakar menjadi kurang efisiens. Selain itu, kendaraan yang membawa muatan besar melaju dengan kecepatan tinggi juga berpotensi mengurangi keseimbangan kendaraan yang dapat memicu terjadinya kendaraan terbalik.

 

Gunakan Gear Netral Saat Jalan Turunan

Pengemudi truk seringkali menggunakan persneling netral ketika melaju di jalan menurun atau landai dengan maksud untuk melakukan efisiensi bahan bakar. Nyatanya, kebiasaan ini bisa memicu terjadinya proses pengereman yang terlalu kuat (braking skid) atau rem panik, sehingga ban terkunci dan berhenti berputar, yang nantinya berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan beruntun. 

 

Tidak Memerhatikan Lubang di Jalan

Pengemudi truk juga memiliki kebiasaan yang ceroboh, yaitu berkendara di atas lubang. Jika dibiarkan terus menerus, kebiasaan ini tidak hanya bisa  merusak ban, sistem kemudi, sistem suspensi, dan lainnya, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan ketika berkendar.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari bahaya jalan adalah tetap waspada terhadap lingkungan dengan mengganti jalur atau memperlambat laju kendaraan untuk menghindari kerusakan. Pastikan juga, driver telah memerhatikan kondisi tekanan angin sebelum melakukan pengiriman barang.

Itulah beberapa driver behaviour yang sering menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk memberikan training mengenai cara mengemudi yang baik dan aman untuk optimize driver performance sehingga bisa mengurangi risiko kecelakaan.

Selain memberikan training, perusahaan juga bisa memanfaatkan GPS tracker dari Arvento Mobile System. Dengan teknologi Arvento, perusahaan bisa menentukan dan memonitor batas kecepatan pengemudi sehingga tidak ada lagi kebiasaan mengemudi dengan kecepatan di atas maksimal.

Perusahaan juga bisa menentukan rute yang akan diambil driver, menentukan wilayah geografis, hingga memberikan laporan kapan pengemudi sampai di lokasi yang dituju. Sehingga perjalanan driver menjadi lebih efektif dan efisien, terutama ketika sedang mengirim atau mengantar barang.

Jadi, sudah siap lebih maju dan berkembang bersama Arvento?